Showing posts with label Writings. Show all posts
Showing posts with label Writings. Show all posts

Tuesday, 13 October 2015

The Perks of Being a Jack of All Trades


Morning All,

Setelah di tulisan sebelumnya mengharu biru tentang mediocrity dan Jack of All Trades,
di post kali ini kita akan membahas sesuatu yang lebih ringan, seringan bulu angsa yang bila disatukan dalam bentuk bantal harganya menampar jiwa raga.




Tumben banget aku kehabisan topik basa-basi, yaudalah langsung aja ke topik utama.
Intinya, di tulisan yang lalu aku membahas tentang "Jack of All Trades" dan "Mediocre". Tulisan lengkapnya bisa dilihat di sini. Secara singkat, yang aku bahas adalah tentang peyorasi kata mediocre.
Di Indonesia, jadi orang "biasa" itu seolah dosa terbesar yang bisa dilakukan seorang anak pada orang tuanya.
Well... Sepertinya nggak hanya di Indonesia sih, mungkin bisa dikatakan negara Asia ya..
Jepang juga punya kasus ekstrim soal ekspektasi, and it's not pretty...




Biasanya sih, kasus-kasus yang bikin seseorang jadi minder gara-gara merasa "biasa" aja itu, sesuatu yang berhubungan dengan kesuksesan. Entah itu diintegrasikan dengan kemampuan atau prestasi akademis, karir, atau kalo perlu dibandingin sama jumlah bantal di rumah.
*dan kembali ngomongin bantal

Monday, 12 October 2015

Mediocrity

Jack of all trades, master of none. Though oftentimes better than master of one.

 Morning all,

Selama XX tahun aku hidup, ada satu masa dimana aku menyadari bahwa :


Aku terlalu jago dalam banyak hal. #plak






No, seriously.
Walaupun kata "jago" itu agak metafor(is) di konteks ini. Aku bisa banyak hal mungkin lebih tepat digunakan.
Dari segi bahasa, aku bisa menguasai bahasa manapun yang aku pengenin. Sebut aja Bahasa Inggris, Jepang, Jerman, Perancis, Korea, Bahasa Jawa, Bahasa Tubuh dan lain sebagainya.
Walau terbatas sama perkenalan ama yes no doang (itupun dengan bantuan mbah Gugel).
Dari segi musik, aku bisa main biola, piano, gitar, nyanyi, dan kalo belajar dikit suatu hari nanti aku pengen bisa main flute.





Dari segi matematis, ..... Well, aku nggak bisa ngomong banyak soal ini.... 
Kuliah di matematika sih, tapi IP bener standar dan seadanya. Bukan "sok rendah hati"- seadanya, tapi beneran seadanya yang, istilah blak-blakannya, nilai minimum untuk lulus kuliah.

Sunday, 27 September 2015

Wanita di Indonesia


Morning all,

Tulisan ini kubuat di sela wangi pagi, di sebuah rumah di pusat kota Brebes.
Setelah beberapa jam terjebak bersama kedua sahabatku, di tengah hiruk pikuk kendaraan di jalan (yang seharusnya) bebas hambatan.
Satu pesan yang berisikan kekhawatiran gamblang ibuku menyelisip masuk dalam pikiran.
Tidak mungkin bisa diabaikan.
Dosaku ada tiga, hingga detik ini.
Pertama, agaknya memiliki sahabat yang berbeda agama membuat ibuku berpikir ulang mengenai cara beliau mendidik anak gadisnya. Terlebih karena keduanya berbeda jenis kelamin, walau mereka bersikukuh bahwa aku telah gagal dengan sukses untuk bisa disebut seorang wanita
(terima kasih   ).
Kedua, keputusanku untuk mempercayai mereka hingga membawaku ke kota ini.
Ketiga, kondisiku yang hingga saat ini masih sendiri tanpa "muhrim".
Aaahhh.. Di saat pembicaraan panjang lebar mengenai teologi mengalir tanpa henti di sela perjalanan. Mempertanyakan toleransi, filosofi keagamaan, hingga kesetaraan gender.

Thursday, 3 September 2015

Apa Warna Rambut Nabi Adam a.s?




Morning All,

Lagi-lagi, menulis di sini jadi pelarian pikiran random yang seenaknya singgah di kepala di waktu yang nggak jelas.
Contohnya, pas baru pulang kerja, ngelamun di APTB Ciputat-Kota, dan mendadak punya pikiran;
"Kalo seluruh ummat manusia itu asalnya dari Nabi Adam a.s, harusnya kan kita punya ciri fisik yang nggak jauh beda antar satu sama lain. Dan mungkin kalo nggak ada perbedaan warna kulit, rambut, ataupun mata, nggak ada permasalahan mengenai ras di dunia ini."
Oke, one thing.
Dari mikirin permasalahan komunikasi, terus mikirin pergerakan Tionghoa - Pribumi - Totok - Peranakan (akibat baca Rumah Kaca nya Pram), nyambung ke konflik ras, dan akhirnya mikir kenapa kok bisa ada ras yang beda-beda, terus keluar pertanyaan di atas.
Setelah pertanyaan udah dirangkum, mulai mikirin feasible solution dari pertanyaannya deh.
Berbagai teori aku pikirin, mulai dari genetis, proses adaptasi sama evolusi, sampe "Wallahualambisshawab" (jawaban frustasi).


Wednesday, 16 November 2011

Perubahan Manusia itu Seperti Kota

Kalo mo ngomong sok tahu, manusia selalu berubah.
Bertemu dengan orang baru, dia berubah.
Bertemu dengan masalah baru, dia berubah.
Bertemu dengan situasi baru, dia berubah.
Bahkan ada kalanya ketika dia berada dalam situasi yang monoton dan membosankan pun, manusia berubah.

Friday, 26 August 2011

Surat Untuk Mereka

Kragilan, Pogalan, Pakis, Magelang.
Dusun terpencil di ujung hutan konservasi pinus pemerintah Kabupaten Magelang.
Di tempat ini aku bernafas dan tersenyum.
Menjalani hariku dengan tawa lepas dan kelegaan di relung paru.
Tanpa beban, tanpa tekanan, tanpa kesedihan.
Astaga, betapa aku telah kehilangan tempat itu.
Betapa aku merindukan saat melegakan itu.
di tempat ini aku menemukan sosok ayah, ibu.
sosok teman, sahabat, adik.
keluarga.
Walau mungkin mereka bukanlah keluarga ideal yang bisa didambakan tiap anak,
namun disana aku bahagia.
hatiku terasa penuh dan hangat atas kasih sayang yang mereka berikan.
Terima Kasih.
Terima Kasih..

High Heels = Feminitas?

Berawal dari ruwetan benang di otakku semalam, ketika sedang mengantar bibiku ke stasiun untuk balik ke Tasikmalaya...
Dasar bego, ke stasiun Lempuyangan pake high heels 7 senti,, terang aja baru 15 menit berdiri ni kaki uda nyut-nyutan...
akhirnya otakku pun bekerja, dan bertanya.. "Kenapa sih, cewek tu seneng banget menyiksa diri sendiri? Pake heels begini cuma buat mendapatkan 'feminine look'..."
sontak aku bertanya lagi dalam hati.. Weh, lha sejak kapan pake heels diidentikkan dengan kadar feminin seorang wanita?
sejak kapan ada heels? dan kenapa juga bentuknya gitu-gitu amat?.. makin tinggi, makin feminin, makin menyakitkaaaaaaaaaaannnnnn...  

Thursday, 25 August 2011

Berpikir dan Merasakan

Beberapa orang cukup puas hanya dengan berpikir.
Beberapa puas hanya dengan merasakan.
Beberapa puas dan berkata mereka berpikir dengan perasaan mereka.
Aku, aku harus puas dengan belajar memikirkan perasaanku.


Friday, 16 April 2010